Setiap kali pulang sekolah melewati rumah mewah itu, aku selalu mendengar suara dentingan batang putih yang sangat indah. Sebuah alunan yang belum pernah kudengar sebelumnya. Rasa ingin tau pun muncul. Siapakah yang memainkan alat musik itu? Rasa penasaran yang selama ini kupendam kini berubah menjadi kenekatan. Akhirnya, aku memutuskan membuka pintu gerbang dan masuk ke dalamnya.Dari balik jendela yang tirainya terbuka, aku melihat sosok wanita berambut panjang digerai sepunggung. Dia memakai gaun putih glamour dan berparas ayu sedang duduk memainkan piano sambil bernyanyi.
Ternyata selain permainannya yang indah, suaranya juga sangat merdu. Aku pun hanyut olehnya sehingga dengan spontan aku memberiikan applause saat dia selesai bernyanyi. Perempuan itu kaget dan melihat ke arahku. Cantik! Dalam hatiku kagum dan memberi senyuman kepadanva. la pun membalas senyumku. Aku meleleh.
"Boleh aku masuk?" tanyaku. Dia mengangguk tersenyum. Setelah masuk dan kini berdiri persis di hadapannya, jantungku terasa berdetak kencang melihat wajah gadis itu. Sungguh bidadari yang cantik. Aku memuji permainan dan suaranya yang indah. Dia pun kembali menyunggingkan senyumannva.
"O iya, aku Olan," kataku memperkenalkan diri
"Nama kamu siapa?" baru sadar sedari tadi ia tidak membuka suara untukku.
"Cantik," jawabnya singkat. Aku terkejut. "Sungguh nama yang nyata. Sama seperti bidadarinya," dan Cantik, begitu namanya, lagi-lagi hanya tersenyum.
Sejak perkenalan itu, aku selalu menyempatkan diri mampir ke rumahnya yang selalu sepi setiap pulang sekolah. Kami menghabiskan waktu bermain dan bernyanyi bersama. Semakin jauh semakin akrab dan aku rasa, aku mulai menyukainya.
Aku melihat perempuan yang sekarang duduk disampingku ini semakin hari semakin cantik. Tapi ada yang membuatku merasa aneh. Setiap kali aku datang ke rumahnya, penampilan Cantik tidak berubah. Sampai gaun yang dipakainya saat ini pun tidak berbeda dengan yang kulihat saat kali pertama berkenalan dengannya. Namun aku tidak pernah menanyakan hal itu.
Keesokan hari seperti biasa, aku mengunjungi Cantik. Aku sudah rindu sekali dengannya. Yah meskipun kemarin aku baru saja ke sini. Hari ini aku ingin menyatakan perasaanku kepadanva. Tapi setelah aku membuka pintu rumahnya aku tidak berhasil menemukan Cantik. Aku berteriak-teriak memanggil namanya_ Berkeliling di setiap sudut ruangannya. Tetapi hasilnva tetap nihil.
Aku baru ingat. Biasanva aaktu aku ke rumah dari depan gerbang sudah terdengar suara permainan piano Cantik. Tapi tadi aku tidak mendengarnya lama sekali. Malah rasanya rumah ini sepi tak berpenghuni. Aku jadi lelah sendiri mengitari bangunan yang cukup besar itu. Dengan lemas aku menuruni setiap anak tangga yang dilapisi karpet merah. Tiba-tiba kulihat pintu utama terbuka. Ada seseorang yang baru datang. Seorang perempuan.
Itu Cantik. Tapi penampilannya kini berbeda dan biasanya. Dia berpenampilan simpel, mengenakan kaos berwarna putih dengan jeans hitam. Kemudian rambutnya yang panjang diikat tinggi ke atas dan menggunakan sepatu kets yang warnanya sama seperti kaos yang digunakan. Yang lebih aneh lagi, dia datang membawa tas koper. Memangnya dari mana dia? Tanpa pikir panjang, aku menghampirinya.
Dengan wajah yang begitu kaget dia bertanya, "Kamu siapa?" Sekarang gantian aku yang kaget mendengar ucapannya.
"Ini aku, Olan! Masa kamu lupa sih, Cantik?", jawabku meyakinkan. "Cantik?", katanya bingung.
Akhirnya dia mengajakku untuk duduk. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Luna, saudara kembar Cantik. Aku baru tau ternyata Cantik punya saudara kembar. Pantas saja aku tidak bisa membedakan mereka.
"Trus Cantik mana?", tanyaku penasaran.
"Kamu teman Cantik?", aku mengangguk.
"Sudah berapa lama mengenal Cantik? Kok aku tidak tahu dia punya teman sepertimu?" dia nampak menyelidikiku.
"Baru dua minggu."
Luna menghela nafas panjang, ia mulai bercerita tentang Cantik. Sebenamya saudara kembarnya itu sudah meninggal setahun yang lalu karena ketergantungan obat. Malam itu, papanya pulang dengan membawakan sebuah gaun berwama putih untuk konser tunggalnya yang pertama. Dia senang sekali dengan hadiah itu dan langsung mencobanya sambil memainkan piano. Semua anggota keluarga berkumpul dan menyaksikan Cantik dengan pertunjukannya.
Tiba-tiba di tengah permainannya Cantik jatuh pingsan. Spontan mengagetkan orang tuanya dan juga Luna. Mereka langsung membawa Cantik ke rumah sakit. Tetapi, sesampainya di sana nyawanya sudah tidak bisa tertolong. (*)