SABTU adalah hari yang paling aku tunggu-tunggu dalam seminggu. Sebab, hari itu aku bisa melepas lelah kesibukan hari-hariku di kampung halaman. Ya, hampir setiap Sabtu aku selalu menghabiskan waktu weekend di sana. Seperti halnya Sabtu ini, aku pun berencana pulang ke kampung halaman. Selain untuk menghabiskan weekend, aku berencana menghadiri pesta pernikahan salah seorang sahabatku waktu SMA di sana. Membayangkan hadir di tengah pesta pernikahan temanku itu membuatku tersenyum sendiri. Terlintas dalam benakku, bagaimana keadaan mereka. Apakah mereka sudah berkeluarga?
Akankah aku bertemu dengan "dia" di sana? Ah, pertanyaan itu membuat hatiku berdesir. Apa yang akan kulakukan jika aku bertemu "dia"? Bagaimanakah jika aku bertemu saat dia datang bersama wanita lain? Siapkah aku?
Sabtu yang kutunggu pun tiba. Sesuai rencana, aku pun bersiap pulang ke kampung halamanku. Di perjalanan, pertanyaan-pertanyaan seputar "dia" terus saja muncul di benakku. Terlebih, lagu yang kebetulan sedang diputar di stasiun radio yang kudengar di dalam mobilku adalah satu lagu lama Chrisye, yang membuatku teringat akan kenanganku bersama "dia" sewaktu SMA dulu. Tuhan ... Siapkah aku dengan semua ini. Setibaku di kampung halaman, kuputuskan untuk beristirahat sejenak di dalam kamarku, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pergi menghadiri pesta pernikahan sahabatku.
Pesta itu begitu meriah. Sesuai dugaanku, pesta pernikahan tersebut dihadiri oleh banyak temon-teman SMA-ku dulu. Ya, acara pesta pernikahan itu sekaligus menjadi ajang reuni.
Kuedarkan pandanganku kesekeliling ruangan. Hingga pandanganku berhenti tepat di salah satu sudut ruang. Pandanganku tepat tertuju pada sosok laki-laki yang ada di sudut ruang itu. Sosok " dia" ada di situ. Sosok yang membuatku mengerti dan mengenal arti cinta pertama sekitar 12 tahun lalu.
Sejenak kurasakan detak jantungku berdetak lebih cepat. Oh Tuhan, perasaan ini kenapa masih saja sama. Hah... Sosok itu masih sama seperti dulu, tak berubah. Kulihat dia sedang bercanda dan bercengkerama dengan teman-teman SMA-nya dulu. Oh Tuhan ingin sekali rasanya kubertanya apa kabar kepadanya.
Tapi, langkah ini terhenti sesaat setelah kulihat ada seorang wanita yang ada di sebelahnya sedang menggandeng tangannya mesra. Siapakah wanita itu? Istrinyakah? Dari jauh bisa kulihat, dia memandang dengan hangat wanita yang sedang berada di sampingnya itu. Ah... pandangan itu? Pernah hanya tertuju buatku, 12 tahun lalu.
Hati ini perih melihat peristiwa itu. Ada perasaan tak rela yang masih saja menggelayuti hatiku. Cemburu? Mungkin iya. Hingga tak terasa mata ini telah berkaca-kaca. Bayangan masa lalu, saat kami masih bersama, seakan perlahan mengiris hati ini. Kami dulu saling mencintai, sangat. Tuhan, tolong hamba-Mu ini. Sadarkan hamba dari bayang-bayang masa lalu.
"Mama, Mama menangis?" tanya seorang anak kecil yang sedari tadi berada di sampingku. Sontak aku kaget. Sejenak kupandangi wajah gadis mungil ini. Ya, gadis mungil ini adalah putri semata wayangku. Oh Tuhan apa yang baru saja kulakukan? Gadis mungil ini telah menyadarkanku dari bayang-bayang masa lalu. Sejenak aku tersadar, aku berada pada kehidupan aekarang, bukan masa lalu. "Ma, kok diam saja, Mama kenapa?" tanya gadis mungil itu lagi.
"Mama tidak apa-apa sayang, Mama menangis karena mama bahagia bertemu dengan kawan-kawan lama Mama lagi," jawabku sambil tersenyum. "Oh begitu ya... Emm ya sudah kita pulang, Ma. Kasihan Papa sudah menunggu kita lama di mobil."
Sebelum kuberanjak dari pesta itu, kupandangi sekali lagi sosok "dia". Kulihat dia tersenyum bahagia saat bersama wanita yang ada di sampingnya itu. Melihat senyum bahagianya, entah kenapa hatiku begitu lega. Mungkin benar kata pepatah. Cinta adalah bagaimana kita bisa membuat orang yang kita cintai bahagia. Sekalipun dengan cara melepaskannya. ***